Burung Air Asia Tenggara

Pecuk Ular Asia merupakan spesies pecuk ular dari famili Anhingidae dan nama Latinnya yaitu Anhinga melanogaster. Pecuk Ular Asia disebut juga dalam Bahasa Inggris yaitu Oriental Darter.

Pecuk Ular Asia tersebar di India, Sri Lanka, Laos, Myanmar, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Sunda Besar.

 

Klasifikasi

 


Berikut klasifikasi Pecuk Ular Asia

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Suliformes

Famili: Anhingidae

Genus: Anhinga

Spesies: Anhinga melanogaster

 

Ciri-ciri

 

Pecuk Ular Asia leher yang sangat panjang, ramping, seperti ular, dan bisa menekuk dalam bentuk huruf “S” dengan otot yang kuat memudahkannya menekuk dan melesat ke depan yang sangat cepat dalam menangkap ikan.

Pecuk Ular Asia memiliki paruh yang lurus, sangat panjang, dan berwarna kuning kecokelatan dengan gerigi kecil di tepinya mengarah ke dalam untuk mencegah ikan lepas.

Pecuk Ular Asia memiliki kaki yang berselaput dan berwarna keabu-abuan hingga hitam.

Pecuk Ular Asia memiliki lengkungan unik di ruas tulang belakang ketujuh, kedelapan, dan kesembilan.

Pecuk Ular Asia memiliki kepala dan leher yang berwarna cokelat dengan garis yang berwarna putih dari dagu ke leher bahkan mereka memiliki bulu yang berwarna gelap, menyerap air, dan tidak memiliki daya apung.

Pecuk Ular Asia memiliki sayap dan ekor yang berwarna hitam.

Pecuk Ular Asia memiliki panjang sekitar 85 – 90 cm dan rentang sayap 33 – 35 cm.

 

Habitat

 

Habitat Pecuk Ular Asia di perairan air tawar, pepohonan, hutan bakau, dan semak bambu yang dekat dengan lingkungan berair (muara, danau, sungai, dan rawa-rawa).

 

Kebiasaan

 

Pecuk Ular Asia termasuk hewan yang hidup berkelompok dalam kawanan kecil (2 – 5 individu) dan kawanan besar.

Pecuk Ular Asia berburu dengan cara mengejar mangsa ke bawah air bahkan dengan cara terjun ke dalam air langsung dari tempat bertengger atau berburu dengan cara berdiri tak bergerak hingga muncul mangsa yang lengah dan berenang ke permukaan untuk ditangkap dengan mematuk yang lebih cepat.

Ketika berenang dekat permukaan, Pecuk Ular Asia menampakkan paruh dan lehernya tetapi tubuhnya masih berada di dalam air mirip ular yang muncul dari dalam air. Hal inilah yang menjadi alasan mereka disebut Pecuk Ular Asia.

Pecuk Ular Asia menusuk ikan di bawah air, membawa ikan ke permukaan, serta melempar dan menangkap sebelum menelan dari kepala terlebih dahulu.

Pecuk Ular Asia menghabiskan sebagian besar waktunya dalam sehari dengan bertengger dan berenang. Setelah berburu, mereka akan bertengger atau di bebatuan untuk menjemur bulunya.

Pecuk Ular Asia berenang dengan sayap dan mendayung melalui kakinya. Mereka mampu menyelam dan tinggal di bawah air dalam waktu yang sama dan dapat mengurangi daya apung.

Pecuk Ular Asia kemungkinan melayang di arus udara panas selama beberap hari yang hangat tetapi akan bergantian mengepak dan meluncur dalam penerbangan normal. Mereka sering terbang bahkan biasanya diam.

Pecuk Ular Asia kemungkinan bersama burung kormoran dengan kebiasaan merentangkan sayapnya untuk mengeringkan diri ketika bertengger di batu atau pohon di tepi air.

 

Makanan

 

Pecuk Ular Asia termasuk hewan pemakan daging (karnivora). Makanannya adalah ikan, ular, katak, udang, dan moluska.

 

Musim Kawin

 

Musim kawin Pecuk Ular Asia berlangsung selama beberap bulan hingga sepanjang tahun, bulan Juni hingga Agustus dalam musim hujan di India Utara, April hingga Mei di India Barat Daya, musim dingin di India Tenggara (selama monsoon timur laut), serta Januari hingga Februari di Madras dan Sri Lanka.

 

Cara Berkembang Biak

 

Pecuk Ular Asia termasuk hewan yang bertelur (ovipar). Mereka mampu mengeluarkan 3 – 6 butir telur merpati.

 

Status Konservasi

 

Populasi Pecuk Ular Asia menurun akibat alih fungsi lahan dan perburuan yang sedikit tinggi.

Karena itu, Pecuk Ular Asia termasuk hewan dalam daftar di IUCN (International Union for the Conservation of Nature) Red List dengan status konservasi NT (Near Threatened).

Pecuk Ular Asia dilindungi berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia yaitu UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa.(jef)

Comments

Popular posts from this blog

Gaur, Si Lembu Besar dan Berotot dari Asia

Ular Tanah yang Sering Masuk Rumah

Beruang Kodiak, Beruang Terbesar Kedua di Dunia Setelah Beruang Kutub